When Anggun Priambodo decided to stay in Kaliurang for two consecutive weeks, he opens up himself for any opportunities. He started to create his own ritual of morning walk, doing the chores, drinking coffee in the porch, writing, reading, and interacting with the local. His presence in the community is transient, thus, it amazes him to see how closely-knit the community is. He thought that this is the result of the togetherness due to continuous danger looming from the presence of the volcano. Yet, the comfort of living in Kaliurang keeps people coming back, resulting in longstanding composition of inhabitants. Soon enough he made new friends while responding to different interactions by producing new artworks for what he later refers as his ‘solo exhibition’. In no time, he start mimicking local activities by trading handmade walking stick, volunteering on the afternoon school for senior citizen by creating an acting class, and get himself involved in the local’s endless attempt to promote the area using ‘Gambar Umbul Kaliurang’. All of which are wrapped in a show called Anjelir, musing on a song with same title written by a local activist for Kaliurang elderly.

Ketika Anggun Priambodo memutuskan untuk tinggal di Kaliurang selama dua minggu berturut-turut, ia membuka diri kepada seluruh kesempatan yang ada. Ia memulai ritual paginya dengan berjalan kaki, melakukan pekerjaan sehari-hari, minum kopi di beranda, menulis, membaca dan berinteraksi dengan warga sekitar. Kehadirannya dalam komunitas setempat bersifat sementara, dan karenanya, ia takjub ketika melihat betapa dekatnya jalinan hubungan antar manusia dalam komunitas ini. Menurut Anggun, hal ini merupakan hasil dari perasaan senasib sepenanggungan yang ditimbulkan oleh bayangan mencekam Gunung Merapi yang masih aktif. Namun, kenyamanan hidup di Kaliurang lah yang membuat orang-orang terus datang kembali, membuat komposisi manusianya tidak banyak berubah.  Dengan cepat ia berteman dengan penduduk sembari merespon interaksi yang terjadi dengan membuat karya baru yang kemudian menjadi ‘pameran tunggal’-nya.  Tanpa membutuhkan waktu yang lama, ia mulai meniru kegiatan warga lokal dengan menjual tongkat kayu, menjadi relawan untuk latihan sore para lansia dengan membuat kelas akting, dan menceburkan diri pada kegiatan yang tanpa lelah dilakukan penduduk lokal untuk mempromosikan Kaliurang dengan mencetak ‘Gambar Umbul Kaliurang’. Segalanya berkumpul menjadi satu dalam sebuah pameran berjudul  ‘Anjelir’, yang terinspirasi oleh sebuah lagu dengan judul sama yang dibuat oleh seorang aktivis Kaliurang bagi para lansia.

LOCATION NUMBER: 7 - HOTEL WIJAYA 3 (DINING ROOM)
gg. Giri Kondang