Tentang Program Publik : Catatan Personal yang Lain



for English version, click here

--

"Apa yang ingin kamu berikan kembali kepada masyarakat?" tanya saya pada diri sendiri di awal proyek. Lebih tepatnya, saya bertanya: "Apa yang ingin kamu berikan kembali kepada tetanggamu?"

Ya: tetangga saya.

Awal tahun 2014. Saya baru saja membaca buku Artificial Hell yang ditulis Claire Bishop dan kutipan dari Dan Graham di awal buku itu melekat dalam pikiran saya ketika saya memikirkan proyek yang akan saya buat: "Semua seniman itu sama. Mereka bermimpi melakukan sesuatu yang lebih sosial, lebih kolaboratif, dan lebih nyata daripada seni".

Proyek itu belum bernama saat itu. Ia hanya sekelebat pemikiran dan keinginan yang menumpuk menjadi proposal yang terus saya perbarui setiap beberapa bulan. Saya melihatnya lebih seperti dorongan kuat untuk membuat 'arsip' tempat saya dibesarkan, setelah melihat desa tetangga terkubur oleh abu beberapa tahun lalu oleh salah satu letusan besar gunung Merapi. Saya tidak yakin bahwa proyek ini bahkan akan terwujud dalam hasil yang konkrit selain mungkin sebagai sebuah buku; dan dengan hampir tidak adanya tradisi pendanaan publik dalam seni di Indonesia, proyek ini dibuat tanpa ketersediaan dana. Kemungkinannya untuk terwujud, apalagi berkelanjutan, terus menerus diragukan.

Mengerjakan proyek ini seperti masuk ke sebuah kontestasi kompleks dalam wacana 'seni publik' dengan berbagai wajah dan terminologi berbeda: site-specific, keterlibatan masyarakat, seni partisipatoris, praktik sosial, dan sebagainya. Selalu ada pertanyaan berulang tentang serangkaian etika yang tampaknya seragam dan melekat dalam banyak aspek hubungan antara tamu dan tuan rumah, antara menerima dan memberi balasan, antara berkontribusi kepada masyarakat dan mengedepankan nilai artistik. Akankah kekhususan atau spesifisitas dari sebuah tempat dan nilai-nilai lokal mengubah kode berperilaku umum dan keseragaman kode etis? Perspektif apa yang dapat saya tawarkan dengan adanya kedekatan pribadi atas situs tersebut? Jenis komunikasi dan persetujuan apa yang dapat dibagikan untuk mencapai keuntungan bersama yang dibagi dengan semua pihak? Seluruh pertanyaan serupa membentuk arus keragu-raguan dan kritik diri yang tak berkesudahan sampai-sampai pameran ini nyaris dibatalkan berkali-kali. Ini adalah bagian tersulit dari proses itu. Sementara itu, satu per satu proyek solo seniman sedang dibuat. Perlahan tapi pasti, proyek masing-masing seniman mulai menumpuk, siap untuk disajikan dalam pameran akhir. Alasan lain mengapa proses ini berjalan sangat lambat: dibutuhkan waktu bagi para tamu (para seniman) untuk membangun hubungan yang bermakna dengan tuan rumah (penduduk setempat) dan untuk menemukan cerita yang cukup penting untuk diceritakan. Logika saya lebih menyerupai seorang editor yang mencoba membuat antologi cerita pendek dari tempat tertentu dan mengubahnya menjadi sebuah buku daripada kurator yang mencoba membuat pameran kelompok. Tetapi 'buku' tersebut, adalah tentang desa kelahiran yang sangat saya cintai, tentang tetangga saya, tentang orang-orang dan tempat yang menyimpan tempat khusus di hati saya — tentu saja saya merasa perlu untuk bekerja sama dengan masing-masing 'penulis' untuk menyampaikan ketertarikan saya dan memberikan pandangan sebagai orang dalam mengenai tempat-tempat tertentu beserta konteksnya. Posisi saya sebagai kurator dan anggota masyarakat lokal menjadi kekuatan sekaligus kelemahan saya. Kadang, saya perlu menjauh dari tempat tersebut untuk mendapatkan perspektif yang lebih jelas dan gambaran keseluruhan dari suatu situasi. Namun, hubungan pribadi dengan orang-orang sekitarlah yang membuat para seniman memiliki hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat dan cerita-cerita yang lebih mendalam.

Saya ingat menyajikan sketsa kasar rencana proyek 900mdpl di depan beberapa kritikus dan kurator Eropa, dan mereka menanyakan tiga hal: 1 / bagaimana rencana yang kamu buat untuk menjual karya seniman dalam proyek ini dan memberikan timbal balik kepada masyarakat?; 2 / Bagaimana jika proyek tersebut menjadi terkenal dan secara tidak sengaja mendukung gentrifikasi ke daerah tersebut?; dan 3 / komentar tentang praktik estetika relasional yang sedang saya buat. Saya menemukan komentar terakhir sama sekali tidak relevan dan membosankan. Teori estetika relasional mungkin cocok untuk studi museum atau karya relasional yang disajikan dalam kenyamanan ruang putih tetapi tidak untuk pseudo-kurator seperti saya yang tidak secara formal mempelajari seni (setidaknya pada saat itu saya belum menempuh pendidikan kuratorial ‘resmi’ di De Appel), yang tinggal di negara yang tidak memiliki infrastruktur seni kontemporer formal dan sistem seni seperti yang dikenal di Barat, dan melakukan praktik yang disebut post-studio tanpa pernah melakukan praktik studio. Pada saat itu ketika komentar ketiga muncul, saya mengangkat bahu dan berkata, “Saya tidak pernah mempelajarinya dan saya tidak tahu cukup banyak untuk mengatakan bahwa apa yang saya lakukan atau akan lakukan dapat dianggap estetika relasional sama sekali. Saya melakukannya begitu saja." Saya saat itu adalah seorang pemberontak yang naif dan sangat ingin belajar tentang 'aturan' karena telah lama melanggar aturan tanpa benar-benar memahaminya. Saya ingin benar-benar belajar dan memahami aturan sebelum kembali ke praktik saya: memiliki konteks dan perspektif praktik studio sebelum kembali ke praktik ‘post-studio’ saya. Menjauhi rumah untuk kemudian kembali dan melihatnya dari sudut pandang tersebut. Melarikan diri secara singkat sebagai tindakan untuk kembali pulang secara nyata. Itulah perspektif yang akan saya gunakan dalam teks ini untuk melihat kembali pertanyaan tentang etika, dampak, dan implementasinya dalam proyek 900mpdl.

Pertanyaan kedua tentang gentrifikasi mungkin merupakan pertanyaan dengan nada paling optimis. “Bagaimana jika proyek tersebut menjadi terkenal dan secara tidak sengaja mendukung gentrifikasi ke daerah tersebut?” Agar sebuah proyek memiliki dampak yang kuat terhadap gentrifikasi, proyek tersebut harus sangat berhasil dalam artian dapat mengundang perhatian pemerintah. Artinya, ada gentrifikasi instan dengan cara yang paling mudah dimengerti seperti jumlah pengunjung yang membludak, perputaran uang yang besar, liputan media, peningkatan lapangan kerja, dan sebagainya. Tidak peduli betapa sulit hal itu untuk dicapai, semua itu tidak terdengar buruk sama sekali. (Dan tolong jangan berpikir bahwa saya mendukung gentrifikasi). Masalahnya, Kaliurang sudah lama tergentrifikasi. Pemerintah biasa melakukan kampanye pariwisata yang gigih, bekerja sama dengan penduduk setempat, dan menikmati masa jayanya di tahun 80-an hingga akhir 90-an. Tetapi alih-alih membuat hidup menjadi tidak terjangkau bagi penduduk, hal itu justru menciptakan lapangan kerja, kewirausahaan, dan peluang bagi penduduk setempat. Kaliurang adalah tempat yang penuh dengan usaha kecil, industri rumahan, dan hampir setiap rumah dibuka dan disewakan sebagai hostel kecil. Ada satu momen di tahun 1994 ketika lonjakan tamu hotel begitu tinggi sehingga pemerintah memutuskan untuk tidak memberikan peringatan resmi tentang meningkatnya aktivitas gunung berapi, yang mengakibatkan sejumlah korban yang terdiri dari penduduk lokal yang tidak siap dan wisatawan yang tidak mengerti. Industri pariwisata perlahan turun sejak saat itu. Kaliurang memiliki masa kejayaannya tersendiri dan setiap kali gunung Merapi meletus, bisnis tersebut runtuh. Ini adalah penurunan yang tajam bagi bisnis kecil di daerah ini. Terkadang mereka bangkrut, dan berkali-kali hal ini menyisakan penduduk sekitar dengan hanya satu pilihan: menjual tanah mereka.

Saya sedih ketika melihat tetangga sebelah menjual rumah keluarganya setelah bisnisnya tidak dapat memberinya keuntungan lagi dan melihat para developer datang untuk membangun hotel yang terlalu mewah untuk sebuah desa kecil dengan terlalu banyak hotel dan sumber daya alam yang tidak mencukupi ini. Krisis air adalah masalah yang sering muncul, kenaikan suhu, dan ruang-ruang hijau berubah menjadi beton. Ketika bisnis lokal terus menurun, masyarakat setempat terpaksa menyingkir. Ekosistem dipertaruhkan ketika uang besar masuk tanpa mempertimbangkan kearifan lokal. Persis seperti bagaimana hotel lima lantai dengan kolam renang di atap tiba-tiba muncul di sebuah desa kecil dengan masalah air dan dekat dengan gunung berapi aktif. Satu karakteristik unik dari orang-orang di sini adalah bahwa tidak peduli bagaimana gunung berapi itu meletus setiap empat hingga enam tahun, mereka terus pulang ke rumah. Penduduk lokal menghadapi teror untuk menjual tanah mereka hanya jika itu adalah pilihan terakhir mereka. Jadi, jika dalam sudut pandang paling optimisnya, proyek seni ini menjadi terkenal dan menarik wisatawan untuk mengunjungi Kaliurang atau membuat orang memperhatikannya kembali: bagus! Bisnis lokal dapat bertahan, pendapatan dihasilkan untuk penduduk lokal, peluang kerja meningkat, dan jumlah pengunjung akan berkontribusi terhadap pendapatan lokal dari tiket masuknya di gerbang Kaliurang yang digunakan untuk pemeliharaan fasilitas publik. Popularitas proyek seharusnya menjadi kebalikan dari gentrifikasi. Peningkatan peluang ekonomi sebagai perjuangan otonom melawan gentrifikasi. Tetapi secara realistis, proyek ini tidak akan cukup besar atau memiliki nilai ekonomi instan — setidaknya tidak dalam edisi pertamanya. Upaya yang lebih besar dan keterlibatan masyarakat yang lebih kuat diperlukan untuk mencapai tujuan itu, jika itu memang menjadi tujuannya. Dampak 'nyata' dari proyek tersebut seperti yang dibayangkan dalam paragraf ini adalah poin bonus sedangkan tujuan awal dan motivasi dalam menciptakan proyek ini adalah sesederhana berbagi dan mengarsipkan memori kolektif tempat ini.

Hal Ini membawa saya pada pertanyaan pertama dan yang paling sulit, pertanyaan saya sedari awal tentang: Bagaimana cara saya memberi timbal balik kepada masyarakat. "Bagaimana saya menjual karya seniman dalam proyek ini dan memberikan timbal balik kepada masyarakat?" Pertama, menjual karya seniman. Pada saat pertanyaan itu diajukan, saya menjawab bahwa saya tidak punya rencana untuk menjualnya karena saya bahkan tidak yakin apakah karya para seniman akan terwujud sebagai "karya seni" alih-alih sebagai fragmen atau rangkaian kejadian, pertunjukan, kegiatan sosial, kelas, dan sebagainya. Adapun bagian dari memberikan timbal balik kepada masyarakat, saya berhenti. Saya tidak tahu jawabannya dan bagian tertentu dari pertanyaan itu terus muncul. Ia kemudian berubah menjadi jeda panjang dan keraguan.
Melompat ke pedesaan dengan hubungan masyarakat yang terjalin begitu dekat dimana orang-orang saling terkait satu sama lain dan tumbuh bersama selama bertahun-tahun, bagaimana jika seni seperti yang orang ketahui (jauh dari gemerlap dan wacana seni kontemporer), selalu bersifat sosial? Saya ingat tumbuh besar melihat orang tua saya pergi ke pertemuan warga setiap bulan untuk membahas strategi kreatif baru agar menarik lebih banyak pengunjung ke daerah tersebut melalui acara yang akan mereka adakan. Sesekali, para tetangga akan datang dan mengunjungi satu sama lain untuk mengobrol santai tentang cuaca, anak-anak, harga cabai, dan strategi untuk pertunjukan berikutnya. Saya ingat beberapa penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) yang diberikan kepada penduduk desa atas inisiatif mereka dalam membuat ampyang terpanjang atau jadah terbesar di dunia. Pada tahun 1999, penduduk setempat membentuk panitia dan membuat acara serius sehubungan dengan pembuatan ampyang terpanjang di dunia tersebut. Penggagas proyek melakukan semua pekerjaan dan mengoordinasikan orang untuk mewujudkannya. Sebuah tim yang terdiri dari para pemuda dilengkapi dengan proposal acara yang diketik rapi dan difotokopi untuk didistribusikan kepada pemilik hotel setempat, yang (dengan alasan kesopanan ataupun memiliki tujuan yang sama) akan merogoh kocek mereka dengan dalam untuk memberikan donasi bagi acara tersebut. Sedangkan tim lain bekeja di bagian acara, mempersiapkan presentasi akhir, meyakinkan para pembuat ampyang setempat untuk bergabung dan memasak camilan lokal terbesar itu secara langsung di tempat, memastikan bahwa para jurnalis dan perwakilan dari media dan pemerintah hadir, pidato telah dibuat, dan musisi lokal siap menghibur para tamu. Ribuan pengunjung pergi ke perayaan besar ini dengan harapan bahwa gemanya akan berlama-lama dan turis terus berdatangan selama beberapa bulan ke depan sampai perayaan besar berikutnya diadakan.

Formula yang sama telah direplikasi berkali-kali sebagai upaya berulang untuk menarik wisatawan datang terutama setelah setiap aktivitas gunung Merapi meningkat; dari mengundang band lokal terkenal yang menarik ribuan pengunjung dalam satu malam, membuat kompetisi menggambar untuk anak-anak di Hari Bumi, mendorong kemampuan artistik anak muda dalam membuat lampion figuratif untuk festival lampion tahunan, melakukan tapa bisu (meditasi diam sambil berjalan) sekitar desa, hingga berkolaborasi dengan seniman untuk mengadakan festival tari internasional setiap tahunnya. Formulanya terdiri dari satu hari, satu acara besar, satu tujuan: jumlah pengunjung yang besar. Pemilik hotel menanggung biayanya, yang lain berkontribusi dengan bekerja secara sukarela, dan gema dari acara tersebut diperkirakan akan bertahan lebih lama dari panjangnya acara. Sebagai seorang remaja dan anggota masyarakat, saya harus bergabung dengan pertemuan-pertemuan itu di mana orang-orang mencoba melontarkan ide kreatif lain untuk masyarakat, menjadi sukarelawan untuk acara-acara tersebut, dan bahkan memimpin beberapa di antaranya. Setiap kali, pertanyaan saya akan selalu tentang keberlanjutannya — kontinuitas, pengulangan, panjang efek yang bisa dijangkau, dan efektivitasnya. Dan ketika saya tumbuh dewasa, saya bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan — dalam kapasitas saya sebagai kurator, bagi masyarakat di Kaliurang? Jadi saya berpikir, mungkin, jika saya dapat membuat platform berkesinambungan dari acara seni berkala — baik itu biennale, trienial, atau bahkan decennial; kontinuitas dan kunjungan dapat diperkirakan dan dikalkulasi. Mungkin ini adalah pemikiran saya yang paling liar, bagaimana mungkin kurator muda independen tanpa dana dapat membuat sesuatu yang menyerupai sebuah biennale? Dan dalam kasus ini, pertanyaan pertama tentang apa yang harus dikembalikan kepada masyarakat sebenarnya adalah pertanyaan berulang karena proyek seni itu sendiri dimaksudkan sebagai cara untuk memberikan kembali kepada masyarakat: penghargaan untuk tempat dan orang-orangnya. Dan dari penghargaan ini muncul pertanyaan berulang: apa yang bisa diberikan seni kepada masyarakat? Bagaimana jika hal-hal lain dalam kehidupan sehari-hari di sini, sudah lebih sosial, lebih kolaboratif, dan lebih nyata daripada seni?

Setelah bertahun-tahun mempertanyakan apa yang bisa dilakukan seni dalam konteks ini, saya mengambil jalan pintas: tanyakan pada masyarakat secara langsung. Menebak apa yang mungkin dibutuhkan masyarakat dan memutuskan sesuatu untuk 'menyelesaikan' masalah yang sebenarnya tidak mereka miliki tampaknya tidak cocok untuk saya. Pendekatan semacam itu telah dilakukan berkali-kali oleh 'pengunjung' (baik itu LSM, sekelompok mahasiswa, atau dermawan) yang memutuskan bahwa kami (orang Kaliurang) memerlukan bantuan tertentu tetapi berakhir dengan membereskan kekacauan demi beberapa foto laporan dana. Tetapi pada saat yang sama, saya tidak ingin mengkompromikan estetika seniman, kedalaman penelitian mereka, dan proyek seni mereka untuk pameran yang sering kali datang dalam paket dengan seni yang melibatkan sosial. Para seniman dalam proyek utama memiliki kebebasan untuk memilih apakah mereka ingin melibatkan komunitas dalam proyek mereka atau lebih berfokus pada tempat khusus saja. Di sisi lain, mengapa tidak menyediakan program publik, yang dirancang khusus untuk para tetangga? Begitulah program publik pertama kali direncanakan: secara pragmatis.

Dalam penelitian awal kami ketika menentukan program publik, kami bertemu beberapa komunitas dalam kelompok umur yang berbeda: anak-anak, anak muda, dan lansia. Kebutuhan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah sesederhana program untuk satu atau dua hari agar meringankan pekerjaan para kader sukarelawan dalam 'mengajar' kelas (kelompok bermain) selama empat hari dalam seminggu. Untuk mereka, kami mengundang Viki Restina Bela, seorang komikus dan muralis yang menghabiskan beberapa hari menemani para balita membuat mural site-specific sebagai penghargaan kepada penjual makanan lokal yang warungnya telah beroperasi lebih dari 27 tahun dan telah menjadi pusat dan titik pertemuan selama beberapa generasi di Kaliurang: generasi tua siswa yang sekarang tumbuh sebagai orang tua siswa muda yang semuanya menjadi pengunjung tetap warung tersebut. Penjualnya, Budhe Han, adalah seorang wanita tua dengan penyakit Parkinson yang dengan loyal membuka warungnya setiap hari kerja, menyajikan bakso sederhana dengan tangannya yang gemetaran kepada para pelanggan. Bakso tersebut tidak pernah bisa dibilang hanya sebuah bakso lagi. Makna di dalamnya telah bergeser menjadi nostalgia dan comfort-food yang tidak pernah berubah sejak masa kecil dari sebagian besar orang di Kaliurang. Untuk karyanya yang berjudul "Melepas Kerinduan di Warung Budhe Han" Viki menggambar anak-anak yang memegang tangan Budhe Han di satu sisi dan memegang sekelompok orang dewasa di sisi lainnya. Anak-anak playgroup yang berada di area yang sama dengan warung Budhe Han diundang untuk mewarnai bersama dengan orang tua dan siswa paud lainnya, yang semuanya adalah pelanggan setia warung Budhe Han. Kegiatan ini sederhana, jelas, dan mudah dipahami sebagai 'proyek seni' oleh penduduk sekitar (tidak seperti, misalnya, instalasi lanskap konseptual Maryanto). Bahkan sebelum mural selesai, seorang guru sudah meminta kepada saya, "Kapan kita akan melakukan ini lagi?" (pertanyaan lain tentang keberlanjutan.) Hal ini membuat saya berpikir tentang Moelyono, seniman yang bekerja bersama dengan masyarakat dengan menjadi guru gambar mereka, berbagi nilai-nilai dan mengurai masalah masyarakat dari tingkat akar rumput. Jika ada edisi berikutnya untuk proyek ini, barangkali mengundang seniman menjadi sukarelawan reguler untuk mengajar seni kepada masyarakat setempat dapat menjadi pilihan yang memungkinkan.

Kelompok usia selanjutnya, para lansia membutuhkan hiburan, pengakuan, dan aktivitas ekstra untuk hiburan mereka selain kelas mingguan (yang ini, dan satu set kulintang - alat musik tradisional yang tidak mampu kami dapatkan). Anggun Priambodo adalah salah satu seniman dari pameran utama yang memutuskan untuk bekerja sama dengan grup ini, menghasilkan hubungan pribadi yang ramah antara dia dan para lansia selain dari video musik, pemutaran video, kelas tambahan, dan jalan-jalan yang dia laksanakan untuk mereka. Beberapa bulan setelah proyek selesai, para lansia masih sering menanyakan Anggun sementara si seniman sendiri masih mencari kemungkinan untuk melanjutkan proyeknya dengan cara lain.

Kebutuhan anak muda lebih kompleks. Ketika kami pertama kali mengumpulkan anak-anak muda paling aktif di Kaliurang, mereka mulai mengidentifikasi apa yang mereka pikir sebagai masalah layaknya teman sebaya mereka: terlalu banyak waktu di tangan mereka dan terlalu banyak waktu senggang yang menyebabkan kehamilan remaja, pernikahan dini, dan risiko kejahatan kecil. Dalam pertemuan berikutnya, ketika kami bertanya kepada mereka keterampilan apa yang mungkin perlu mereka pelajari, salah satu dari mereka menjawab, "Bagaimana menemukan jalan baru untuk bisnis jeep (bisnis objek wisata mereka)?" Pertanyaan itu menunjukkan betapa sedikit kemampuan seni untuk berkontribusi pada masyarakat di sini. Pada pertemuan ketiga, kami belajar betapa seriusnya upaya mereka untuk mempromosikan daerahnya melalui kampanye online #kaliurangpenak atau #visitkaliurang, vlogs, video musik, dan satu atau dua acara publik. Dari pertemuan ini kita merespon dengan mengundang Arief Budiman dari Video Battle dan Fitro Dizianto dari Sewon Screening guna melakukan kelas literasi video intensif untuk anak muda yang memiliki minat dan kemampuan khusus dalam membuat video untuk mengembangkan strategi branding dan publisitas mereka lebih lanjut. Tidak ada hasil yang hendak dicapai dari kelas-kelas ini tetapi pada kelas kedua (yang merupakan pertemuan kelima), kami mempertimbangkan kembali pendekatan kami dalam mencoba terlibat dengan mereka karena jumlah pemuda yang bergabung dalam pertemuan tersebut perlahan-lahan berkurang, dari mulanya lebih dari sepuluh selama dua pertemuan pertama turun menjadi dua orang di pertemuan terakhir. Sementara itu, salah satu pemuda setempat, Alwirata Kusuma, bergabung sebagai salah satu kontributor aktif dari proyek ini bersama dengan rencananya mempromosikan kisah tokoh-tokoh lokal yang unik serta mengarsipkannya melalui akun instagram @wargakaliurang. Akun tersebut gagal diluncurkan pada saat pameran berlangsung karena jadwal yang bertabrakan tetapi masih memiliki potensi untuk dilanjutkan dalam waktu dekat.

Kedua proyek yang gagal itu membuat kami khawatir, bagaimana jika program-program itu tidak menjawab kebutuhan mereka tetapi mulai terasa seperti beban? Siapa sebenarnya yang membutuhkan keterlibatan masyarakat: proyek atau komunitas? Membuka proyek 'bagi komunitas untuk bergabung' kadang-kadang terasa seperti menempatkan kita dalam posisi menggurui yang tidak nyaman. Jadi kami mempertimbangkan kembali pendirian kami, tidak melanjutkan kelas formal atau meluncurkan akun instagram, dan yang mengejutkan, pemuda yang tersisa yang bergabung dengan kelas video terakhir terus kembali ke kantor kami hanya untuk nongkrong, mengobrol, dan akhirnya menjadi bagian dari tim kecil kami. Ini sejalan dengan pelajaran menarik tentang transaksi yang terjadi di salah satu pertemuan ketika kami menawarkan anak muda untuk menjadi pemandu lokal pameran dengan upah per jam. Jawaban mereka membingungkan saya: mereka bersedia menjadi pemandu pameran lokal tetapi tidak ingin dibayar karena mereka ingin melakukannya “demi Kaliurang”. Tidak nyaman dengan ide menggunakan mereka sebagai pemandu pameran yang tidak dibayar, kami memutuskan untuk menjalankan sendiri pameran (dengan tim kecil 900mdpl). Namun, beberapa dari mereka tetap datang untuk nongkrong di titik kumpul 900mdpl, menemani mereka yang melakukan pergantian jadwal pemandu pameran, kadang-kadang memuaskan rasa ingin tahu mereka tentang seni kontemporer, dan kadang-kadang hanya berbagi permainan kartu bersama semangkuk rujak. Frustrasi kami tentang bagaimana jumlah keterlibatan pemuda lokal turun dari sepuluh menjadi dua berubah menjadi kegembiraan: bukan rasa tidak enak yang membuat mereka kembali, tetapi karena ketertarikan mereka. Mereka adalah pemuda setempat yang benar-benar tertarik sampai memiliki rasa saling memiliki untuk menjadi bagian dari tim proyek. Bagian dari program publik ini tidak berhasil dilakukan seperti yang kita inginkan, namun kualitas hubungan pribadi tetap menjadi salah satu yang paling menguntungkan.

Seniman terakhir yang diundang untuk menjadi bagian dalam program publik adalah Azizi Al Majid yang kemudian menciptakan dua infografis tentang proyek tersebut, Ia menawarkan sudut pandangnya sebagai salah satu pejalan kaki dan audiens pertama proyek tersebut. Hubungannya dengan masyarakat terlihat lebih subtil: ia menawarkan bahasa visual yang terasa lebih akrab, menarik, dan mudah dipahami dalam proyek yang membutuhkan banyak penjelasan naratif.

Karya-karyanya disajikan dalam dua lokasi: yang pertama ditampilkan di depan titik kumpul sebagai infografis dan latar belakang bagi pengunjung yang ingin berfoto, sebagai bentuk ‘(masukkan nama) was here’; yang kedua ditampilkan dalam lokasi pameran secara penuh di galeri Lir Space, berada di kota dan berjarak 25km jauhnya dari Kaliurang, untuk berjaga-jaga jika ada pengunjung tertentu yang membutuhkan perjalanan virtual di sekitar lokasi pameran tanpa perlu melakukan perjalanan sampai ke puncak gunung. Program ini sangat mudah, informatif, dan semenarik pusat informasi yang kami bayangkan.

Program publik yang dirancang untuk menjawab pertanyaan, memberikan efek langsung (mudah-mudahan nyata), dan berkali-kali disensor sendiri untuk alasan moralitas, ketakutan, frustrasi, dan etika; meninggalkan saya dengan lebih banyak pertanyaan dan rasa tidak aman. Mengambil posisi sebagai orang dalam yang memulai proyek dengan kesadaran penuh dari hubungan tuan rumah dan tamu, sekaligus menjadi kurator proyek seni, memikul tanggung jawab dalam bidang wacana seni kontemporer, tentu tidak membuat posisi itu menjadi lebih mudah. Untuk melihat ke belakang secara kritis dan membaca proyek dari kejauhan, saya memerlukan seperangkat bahasa dan standar evaluasi tertentu. “To stay local is to risk provincialism; to go global risk dilution” (Bishop, 2012). Ini menimbulkan pertanyaan tentang: apakah ada seperangkat nilai non-universal, kode perilaku, dan pengukuran etika yang tidak digeneralisasi yang secara spesifik mengikuti kebiasaan setempat dan kontur keintiman sosial yang berbeda dalam proyek seni site-specific yang berhubungan dengan memori kolektif masyarakat?

Proyek utama 900mdpl dilakukan dalam proses yang lebih halus dan lambat yang lebih berfokus pada produksi seni site-specific dan mempromosikan keintiman, hubungan yang mendalam, pengakuan, dorongan untuk menceritakan kisah, berbagi tujuan dan perasaan saling memiliki, dan perayaan atas kehidupan sehari-hari. Pada saat yang sama, hal itu bertujuan untuk membangun audiens baru dalam seni dan menjawab dorongan pengarsipan bagi komunitas yang cepat dan terus berubah yang terletak di daerah berisiko tinggi. Mungkin, program publik juga perlu proses kurasi lambat, perlahan-lahan, dan hati-hati sebagaimana yang diterapkan di proyek utama. Edisi berikutnya mungkin belum menjadi jawaban untuk pertanyaan tentang kontinuitas dan keberlanjutan, tetapi kegigihan dan upaya berkesinambungan untuk mengevaluasi hubungan antara semua pihak masih dapat diterapkan. Pertanyaan diri yang terus-menerus tentang posisi saya sebagai kurator dan anggota masyarakat setempat, posisi para seniman sebagai tamu yang menawarkan perspektif dan pandangan orang luar serta menjadi pengarsip cerita dan pendongeng; masyarakat lokal, spesifikasi tempat, dan orang-orangnya. Dan jika saya hanya bisa meringkas proyek ini dalam satu kalimat, menyembunyikan ketakutan dan rasa tidak aman yang saya rasakan (yang hampir membuat proyek ini batal berkali-kali) di bawah karpet, edisi pertama 900mdpl adalah "proyek yang rasanya cukup menyenangkan". Semuanya masih jauh dari contoh praktik seni yang sempurna di ruang publik, tetapi selama itu terasa menyenangkan, ia akan tetap cukup baik untuk saat ini.



(Mira Asriningtyas)